Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa dialog ini merupakan bagian dari agenda Presiden untuk membangun komunikasi dua arah yang lebih terbuka dan cair dengan kalangan intelektual nasional.
“Jadi hari ini memang betul ada agenda dari Bapak Presiden. Bukan memanggil ya, ini bagian dari agenda beliau sebagai kepala negara untuk berdiskusi,” ujar Prasetyo saat ditemui di kompleks Istana Negara.
Ia menambahkan, Presiden merasa perlu menyampaikan secara langsung perkembangan situasi geopolitik global yang tengah bergejolak, sekaligus memaparkan arah dan rencana besar pemerintah ke depan.
“Bapak Presiden melakukan banyak komunikasi dengan berbagai pihak. Dan hari ini, beliau ingin membangun komunikasi kepada para rektor dan guru besar, baik dari kampus negeri maupun swasta,” tambahnya.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto dalam sambutannya melaporkan tingginya antusiasme para akademisi terhadap forum dialog tersebut. Ia menyebutkan bahwa pertemuan ini dihadiri perwakilan dari 365 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di seluruh Indonesia.
Brian menilai intensitas dialog yang dilakukan Presiden dengan kalangan akademisi dalam satu tahun terakhir merupakan sinyal kuat bahwa pendidikan tinggi ditempatkan sebagai prioritas strategis dalam visi pembangunan nasional.
“Ini adalah wujud perhatian Bapak Presiden sekaligus amanat yang jelas agar kita semua di Perguruan Tinggi mengambil peran aktif dan berdiri di garis depan pembangunan bangsa,” pungkasnya.
Melalui dialog tersebut, pemerintah berharap terbangun kolaborasi yang lebih nyata antara riset dan inovasi di kampus dengan perumusan kebijakan publik, sehingga target-target besar pembangunan Indonesia ke depan dapat dicapai melalui semangat gotong royong.